Jumat, 27 Mei 2016

Mengisi Halaqah TOT Cara Cepat Baca Kitab Kuning

Bismillahirrahmanirrahim... Hari Kamis 26 Mei 2016 seorang Pembina Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu diminta untuk mengisi materi Hari Sabtu, 28 Mei 2016, yaitu Ustadz Ahmad Hadi Rumi, S.Pd.I dalam Halaqah TOT Cara Cepat Baca Kitab Kuning dengan judul "Pembelajaran Kitab Kuning di Pesantren dan Al-Jami'ah" dengan tempat di Asrama Haji.

Hasil dari Halaqah ini adalah "Membaca Kitab Kuning (Kitab tanpa harakat) dapat dipelajari dengan cepat, akan tetapi penguasaannya butuh waktu sambil mendalami Ilmu Nahwu, Sharaf, Tashrif, dan menghafal Mufradaat (Kosa Kata) secara berkesinambungan."

Semoga Santri Provinsi Sulawesi Tengah bisa berjalan bersama dengan Provinsi lainnya dalam memahami Kitab Kuning yang merupakan Referensi Asli Lembaga Pendidikan Islam.
Seusai memberi Materi
Ketika Mengisi Materi

Minggu, 15 Mei 2016

Kunjungan Tamu ke Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Bismillahirrahmanirrahim... Memuliakan dan menyambut tamu merupakan hak sesama Muslim, sehingga pada zaman dahulu tidak ada namanya penginapan. akan tetapi dengan dimanfaatkan hal itu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka sebagian orang tidak lagi asal menerima tamu yang mengakibatkan munculnya penginapan/hotel sebagai tempat istirahat jika datang ke sebuah daerah.

Semua tamu hukumnya sama, yaitu dimuliakan, baik umara terlebih ulama, berikut dokumentasi kedatangan sebagian tamu ke Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu


Habib Abdullah bin Abdurrahman Almuhdhar 
(Ulama Tarim, Hadramaut, Yaman)
Kunjungan Beliau dalam rangka menghadiri Houl Pendiri Madrasah Alkhairaat yang mempunyai cabang sampai ratusan pada saat transportasi masih seadanya serta medang yang sulit, Habib Idrus bin Salim Aljufri (sapaan : Guru Tua) sekaligus memberikan tausiyah pada haul tersebut, serta nasehat dan ijazah khusus kepada Santri Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu.

Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus 
(Ulama Tarim, Hadramaut, Yaman)
Kunjungan Beliau dalam rangka menghadiri Houl Habib Abdillah bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri sekaligus memberikan tausiyah pada acara tersebut, serta nasehat dan ijazah khusus kepada Santri Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu.

Sayyid Sa'duddin Alhasani dan Syekh Abdurrahman Bleiq
(Ulama dari Libanon)
Kunjungan Beliau berdua dalam rangka kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Libanon dalam Pendidikan, dan mendapat jadwal berkunjung ke Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu

Jumat, 13 Mei 2016

Makan Bersama sesudah UN 2016

Suasana di Kelas

sedang mendengara arahan

Santri sedang makan bersama dewan guru/asatiz setelah selesai UN ujian nasional kamis 12 mei 2016

Senin, 09 Mei 2016

Ujian Nasional 2015/2017

Santri Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Pusat Palu dalam menghadapi UN 2015/2016 "Prestasi Penting, Jujur yang Utama".

Sabtu, 07 Mei 2016

Nusantara Mengaji

Santri Pondok Pesantren Putera Alkhairaat Palu juga ikut meramaikan Gerakan Nusantara Mengaji dengan Khataman Alquran secara bersama-sama di Masjid Alkautsar, Jl. Mangga, No. 31-33.


Kamis, 05 Mei 2016

Tonggak Sejarah Islam di Indonesia Timur

Habib Idrus bin Salim Aljufrie
Setiap tahun setelah hari raya Idul Fitri, persisnya 12 Syawwal, ribuan umat Islam dari berbagai daerah di kawasan Indonesia timur berduyun-duyun datang ke Palu, Sulawesi Tengah. Tujuannya, menghadiri acara haol (peringatan wafatnya, red) tokoh dan tonggak Islam di kawasan Indonesia Timur, Guru Tua Al-Alimul ‘Allamah HS Idrus bin Salim Aljufrie. Di sanalah, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di Indonesia itu, dimakamkan. 

Masyarakat Muslim Indonesia timur memang sangat sulit melupakan perjuangan gigih dari seorang Tuan Guru HS Idrus bin Salim Aljufrie. Semangatnya untuk menebarkan Islam ke pelosok-pelosok daerah terpencil, sangat dirasakan. Tak hanya pelosok yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan kendaraan. Almarhum sering menembus daerah terpencil dengan menggunakan sampan untuk memberikan pencerahan akidah Islam dan bimbingan kepada umat Islam yang membutuhkan.

Habib Idrus muda memang gigih menimba ilmu agama. Pada usia 18 tahun ia telah hafal Alquran ditambah tempaan langsung ayahnya, Habib Salim Aljufri.

Setelah ayahnya wafat, ia diangkat menjadi mufti muda di Taris menggantikan sang ayah. Jabatan mufti yang disandangnya merupakan jabatan tertinggi di bidang keagamaan dalam suatu kesultanan.

Gaya dakwah Habib Idrus sangat halus dan simpatik, sangat berbeda dengan gaya gerak sejumlah ulama yang mengintroduksi gerakan di beberapa wilayah. Kendati Indonesia adalah negeri keduanya — ia memutuskan pergi dari negerinya dan meluaskan dakwah ke Indonesia tahun 1920-1n — ia sangat menjunjung tinggi negeri ini. Orang akan teringat betapa kecintaannya kepada negerinya yang kedua ini dalam syairnya saat membuka kembali perguruan tinggi pada 17 Desember 1945 setelah Jepang bertekuk lutut, Ia menggubah syair, Wahai bendera kebangsaan berkibarlah di angkasa; Di atas bumi di gunung nan hijau, Setiap bangsa punya lambang kemuliaan; Dan lambang kemuliaan kita adalah merah putih.

Warisan besar dan berharga yang ditinggalkan Guru Tua (panggilan Habib Idrus bin Salim Aljufrie) adalah lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Sampai saat ini Alkhairaat telah mengukir suatu prestasi yang mengagumkan. Dari sebuah sekolah sederhana yang dirintisnya, kini lembaga ini telah berkembang menjadi 1.561 sekolah dan madrasah.
Selain itu, Alkhairaat juga memiliki 34 pondok pesantren, 5 buah panti asuhan, serta usaha-usaha lainnya yang tersebar di kawasan Timur Indonesia (KTI). Sedangkan di bidang pendidikan tinggi, yakni universitas, Alkhairaat memiliki lima fakultas definitif dan dua fakultas administratif atau persiapan, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan Fakultas Kedokteran dengan 11 program studi pada jenjang strata satu dan diploma dua.
Kitab Tarikh Madrasatul Khiratul Islamiyyah karya salah seorang santri generasi pertama Habib Idrus, menyebut makna secara etimologis Alkhairaat berasal dari kata khairun yang artinya kebaikan. Semangat menebar kebaikan itulah yang diusung Guru Tua, julukannya.

Ia memancangkan tonggak Alkhairaat selama 26 tahun (1930-1956). Ia membesarkan lembaga pendidikan yang didirikannya hingga pada akhirnya, tahun 1956, menjangkau seluruh wilayah Indonesia timur. Pada tahun itu pula dilaksanakan muktamar Alkhairaat yang pertama, bersamaan dengan peringatan seperempat abad Alkhairaat. Dalam muktamar itu lahirlah keputusan penting, yaitu berupa struktur organisasi pendidikan dan pengajaran, serta dimilikinya anggaran dasar. Tonggak lembaga ini sebagai sebuah institusi modern terpancanglah sudah. 

Periode selanjutnya adalah masa konsolidasi ide selama sembilan tahun yakni sejak 1956 hingga 1964. Guru Tua memberikan kepercayaan kepada santrinya yang terpilih yang diyakininya cukup andal dan memiliki spesialisasi kajian. Murid-murid pelanjut Guru Tua antara lain KH Rustam Arsjad, KH Mahfud Godal, yang ahli dalam bidang ilmu tajwid dan tarikh, serta KHS Abdillah Aljufri yang ahli dalam ilmu sastra Arab dan adab.

Madrasah Alkhairaat terus berkembang walaupun saat itu hubungan transportasi maupun komunikasi antara daerah belum selancar sekarang. Puncaknya, tahun 1964, Alkhairaat membuka perguruan tinggi Universitas Islam (Unis) Alkhairaat di Palu. Habib Idrus duduk sebagai rektornya.

Perkembangan perguruan tinggi ini tersendat tahun 1965. Perguruan tinggi ini dinonaktifkan. Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswinya ditugaskan untuk membuka madrasah di daerah-daerah terpencil. Ini sebagai upaya membendung komunisme, sekaligus melebarkan dakwah Islam. Pada tahun 1969 perguruan tinggi tersebut dibuka kembali dengan satu fakultas saja, yaitu Fakultas Syariah.

Pada tanggal 12 Syawwal 1389 H bertepatan dengan 22 Desember 1969 Habib Idrus bin Salim Aljufri wafat. Ia menutup 46 tahun berkiprah di dunia dakwah dan pendidikan dengan mewariskan lembaga pendidikan yang terus berkembang hingga saat ini.
Setelah Guru Tua wafat, Alkhairaat menyempurnakan diri sebagai sebuah institusi modern yaitu dengan adanya Perguruan Besar (PB) Alkhairaat, Yayasan Alkhairaat, Wanita Islam Alkhairaat (WIA) dan Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) serta Perguruan Tinggi Alkhairaat, Swalayan Alkhairaat , lembaga ini juga memiliki Majalah Alkhairaat (MAL), Radio Alkhairaat (RAL).

Sumber : Copas.

Rabu, 04 Mei 2016

Tazkiatunnafs

Tazkiatunnafs... merupakan salah satu proses untuk mencapai keberuntungan, sebagaimana firman Allah ta'ala "Telah beruntung orang yang mensucikannya (jiwa)".

Banyak cara untuk tazkiyatunnasf, diantaranya dengan istigfar sambil membayangkan titik-titik nafs pada tubuh. sebaiknya cara ini dilakukan sesudah konsultasi mendalam dan bimbingan mursyid.
Titik-titik nafs